Rabu, 23 Oktober 2013

Soe Hok Gie




Soe Hok Gie (lahir di Djakarta, 17 Desember 1942 – meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun) adalah salah seorangaktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.



Kobaran semangatmu akan selalu menjadi inspirasiku setiap waktu. berikut ini adalah kata kata yang luar biasa dari Soe Hok Gie:

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah. 

Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. 

Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan. 

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. 

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. 

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. 

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir? 

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. 

Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah. 

Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita. 

Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia. 

To be a human is to be destroyed. 

Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. 

Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan. 

I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist. 

Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata. 

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. 

Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolis malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya. 

Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 

mapala dan sejarah berdirinya

Selama ini, kegiatan kelompok mahasiswa pecinta alam (Mapala) identik dengan pendakian gunung, penjelajahan gua, dan berarung jeram di sungai. Sebenarnya, kelahiran Mapala di Tanah Air justru berbau politis. 

Menurut Fajrul Iman Ibrahim dalam materi pelatihan Mahesa Unhas yang dilansir Scribd, Kamis (1/11/2012), sejarah kelompok pecinta alam kampus dimulai sekira 40 tahun lalu. Ketika itu, para aktivis mahasiswa terpaksa bungkam akibat dikeluarkannya SK 028/3/1978 yang membekukan kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Masa ini dikenal sebagai masa Normalisasi Kegiatan Kampus (NKK). 

Organisasi Mapala pertama di kampus Tanah Air lahir di Universitas Indonesia (UI). Pada 8 November 1964, Soe Hok Gie melontarkan gagasan pembentukan organisasi Mapala di UI, terinspirasi oleh Ikatan Pecinta Alam Mandalawangi. Para anggota Mandalawangi, yakni masyarakat umum dan mahasiswa, harus melewati seleksi ketat terlebih dahulu. Namun, umur Mandalawangi tidak panjang, hanya dua tahun. 

Fajrul memaparkan, gagasan Soe ini digarap serius. Akhirnya, pembentukan organisasi Mapala UI pun disepakati dengan nama Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala). Oleh Pembantu Dekan III Fakultas Sastra UI bidang Mahalum, Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut, nama Impala disarankan untuk diganti karena dianggap terlalu borjuis. Drs. Moendardjito mengusulkan nama Mapala Prajna Paramita.   Selain merupakan singkatan dari mahasiswa pecinta alam, Mapala juga berarti berbuah atau berhasil.  Dan Prajna Paramita adalah dewi pengetahuan. Jadi, menurut Fajrul, penggunaan nama ini diharapkan dapat mendorong segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggota Mapala UI akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. 

"Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis, selain dari hobi individual pengikutnya. Organisasi ini juga dimaksudkan untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antarorganisasi," urai Fajrul.

Fajrul pun mengutip tulisan Soe Hok Gie dalam Bara Eka, 13 Maret 1966. Menurut Soe, Mapala mencoba membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, Tanah Air, rakyat dan almamaternya. 

"Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan Tanah Air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik," tulis Soe. 

Menurut Fajrul, Mapala adalah organisasi beranggotakan para mahasiswa dengan kesamaan minat, kepedulian dan kecintaan dengan alams ekitar dan lingkungan hidup. Diinisiasi Mapala UI, para mahasiswa ini membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung. 

"Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya kampus, melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran, lorong-lorong atau kampung-kampung. Seakan-akan semua yang pernah menjejakkan kaki di puncak gunung sudah merasa sebagai pecinta alam," imbuhnya. (akw)

camtasia 6 (dubbing)



lumayan lah

Senin, 30 September 2013

Teknik Cropping (masih Adobe Photoshop CS3)

Buka adobe photoshop, kali ini saya menggungakan versi CS3


1. Klik file kemudian open. pilih gambar yang akan di lakukan proses cropping.


2. Mulai peng croppingan dengan memilih ikon dibawah ini kemudian memilih lasso tool pada submenunya.

3. Klik pada gambar yang akan di crop sampai bertemu pada titik awal. Kemudian jadilah seperti ini.

4. Drag gambar yang telah di crop ke file baru.

5. Tempatkan gambar dan sesuaikan agar terlihat lebih nyata dengan menghapus beberapa bagian yang tidak penting menngunakan erase tool.
6. Berikan sentuhan blur pada bagian luar gambar agar gambar tidak terlalu kontras.

7. Kemudian berikan sentuhan dengan sponge tool. Hal ini memberikan efek gambar menjadi sedikit berwarna abu abu.
8. Hasil akhirnya seperti ini.


VS




SELAMAT MENCOBA

Selasa, 24 September 2013

aplikasi komputer?




Antara guru dan aplikasi komputer

Menjadi seorang tenaga pengajar atau guru adalah suatu kebanggaan bagi yang mendapat tugas tersebut. Menjadi guru tidaklah suatu hal yang mudah, terutama karena peran guru sebagai ujung tombak kemajuan bangsa Indonesia. Lewat guru kita semua berharap untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Setiap hari guru selalu menjadi sorotan, entah itu di media massa, obrolan antara orang ke orang selalu ada yang membicarakan peran seorang guru.
Menghadapi era globalisasi ini dimana teknologi semakin maju maka yang dihadapi para guru bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang orang moderen yang sudah melek teknologi. Untuk itu guru moderen sekarang dituntut untuk menguasai teknologi atau aplikasi komputer sebagai bahan mengajar maupun untuk pembelajaran di kelas. Saat ini siswa sudah harus dibiasakan dengan model komputerisasi, sehingga nantinya proses interaksi tidak hanya di kelas saja, melainkan di luar kelas pun antara guru dan murid dapat tetap berkomunikasi
Komputer dapat didefinisikan sebagai suatu peralatan elektronik yang terdiri dari beberapa komponen, yang dapat bekerja sama antara komponen satu dengan yang lain untuk menghasilkan suatu informasi berdasarkan program dan data yang ada. Adapun komponen komputer adalah meliputi : Layar Monitor, CPU, Keyboard, Mouse dan Printer (sbg pelengkap). Tanpa printer komputer tetap dapat melakukan tugasnya sebagai pengolah data, namun sebatas terlihat dilayar monitor belum dalam bentuk print out (kertas).
Kata komputer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Akan tetapi kedepannya komputer dipergunakan juga untuk hal non aritmatika.
Dari waktu ke waktu komputer semakin berkembang kearah kemajuan dengan sangat pesat. Mulai dari generasi pertama dengan komputer yang sangat besar dan berfunsi untuk keperluan perang sampai pada generasi sekarang ini generasi ke lima. Tentu saja fungsi dari generasi ke generasi berbeda, kita menggunakan komputer tidak lagi untuk berperang, tetapi untuk memudahkan pekerjaan manusia. Hampir semua pekerjaan manusia dapat dipermudah dengan berkembangnya komputer generasi ini, begitu juga komputer berperan besar dalam hal majunya pendidikan.
Banyak yang dapat dilakukan guru moderen sekarang ini, diantarannya dapat membuat materi pembelajaran semenarik mungkin dengan macromedia flash, power point. Atau dapat juga melakukan kuis online yang  berbeda dan menarik siswa untuk merasakan sesuatu yang baru. Siswa tidak lagi mendapatkan tugas tertulis dari guru, akan tetapi mereka mengakses tugas ataupun pekerjaan rumah (PR) melalui web site atau blog dari guru yang bersangkutan
Dengan adanya fasilitas yang tersedia sekarang seorang guru seharusnya sudah mampu memberikan efek dan semua pelajaran yang diberikan dapat diterima oleh para siswa, siswa menjadi lebih tertarik dengan yang diajarkan. Guru harus bisa membuat multimedia interaktif yang menarik, sehingga siswa akan lebih antusias dalam pembelajaran.














2. Aplikasi yang saya kuasai sementara ini :
            - Ms.Office Word
            - Ms.Office Excel
            - Ms.Office PowerPoint
            - AVSVideoEditor
            - MovieMaker